Kalkulator Bunga Majemuk
Kalkulator bunga majemuk gratis dengan setoran bulanan, penyesuaian inflasi, dan model pajak final atas bunga untuk tabungan dan deposito berjangka.
Nilai masa depan
Rp 229.547.712
Pertumbuhan dari waktu ke waktu
| tahun | Setoran | Bunga | Saldo |
|---|---|---|---|
| 1 | Rp 12.000.000 | Rp 2.547.611 | Rp 64.547.611 |
| 2 | Rp 12.000.000 | Rp 3.215.926 | Rp 79.763.537 |
| 3 | Rp 12.000.000 | Rp 3.914.943 | Rp 95.678.480 |
| 4 | Rp 12.000.000 | Rp 4.646.073 | Rp 112.324.553 |
| 5 | Rp 12.000.000 | Rp 5.410.790 | Rp 129.735.343 |
| 6 | Rp 12.000.000 | Rp 6.210.639 | Rp 147.945.982 |
| 7 | Rp 12.000.000 | Rp 7.047.233 | Rp 166.993.215 |
| 8 | Rp 12.000.000 | Rp 7.922.259 | Rp 186.915.474 |
| 9 | Rp 12.000.000 | Rp 8.837.484 | Rp 207.752.958 |
| 10 | Rp 12.000.000 | Rp 9.794.755 | Rp 229.547.712 |
Hanya untuk tujuan estimasi. Hasil aktual dan perlakuan pajak bergantung pada bank, produk, dan situasi perpajakan Anda — konsultasikan dengan penasihat keuangan.
Bagaimana Bunga Majemuk (Bunga atas Bunga) Bekerja
Bunga majemuk berarti Anda tidak hanya mendapat bunga dari setoran awal, tetapi juga dari seluruh bunga yang sudah pernah dibukukan sebelumnya. Misalnya Anda menyimpan dana di rekening dengan bunga 4,5% per tahun yang dibayarkan setiap bulan. Pada bulan pertama, bunga dihitung hanya dari saldo awal. Namun begitu bunga tersebut dibukukan ke dalam saldo, bulan berikutnya bunga baru dihitung dari saldo yang sudah lebih besar — termasuk bunga bulan sebelumnya — bukan lagi dari setoran awal saja.
Di sinilah letak percepatannya: semakin sering bunga dibukukan (harian, bulanan, atau tahunan), semakin cepat bunga mulai 'menghasilkan bunga' lagi, sehingga suku bunga efektif tahunan yang sebenarnya Anda terima sedikit lebih tinggi daripada suku bunga nominal yang tertera di brosur bank. Setoran rutin bulanan yang Anda tambahkan di atas saldo juga ikut bertumbuh dengan cara yang sama sejak hari setoran itu masuk.
Pajak Final atas Bunga Tabungan dan Deposito (PPh Pasal 4 ayat 2)
Di Indonesia, bunga tabungan dan deposito di bank umumnya dikenakan Pajak Penghasilan bersifat final sebesar 20% sesuai PPh Pasal 4 ayat 2, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 131 Tahun 2000 juncto Keputusan Menteri Keuangan No. 51/KMK.04/2001, sebagaimana dijelaskan di laman resmi Direktorat Jenderal Pajak (pajak.go.id). Karena bersifat final, pajak ini langsung dipotong oleh bank saat bunga dibayarkan dan tidak digabungkan lagi dengan penghasilan lain di SPT Tahunan.
Ada satu pengecualian yang sering luput diketahui: pemotongan pajak ini tidak dilakukan apabila jumlah tabungan atau deposito tidak melebihi Rp7.500.000, sepanjang jumlah tersebut tidak sengaja dipecah-pecah ke beberapa rekening untuk menghindari pajak. Di atas ambang batas tersebut, seluruh bunga yang diperoleh dikenakan potongan 20%. Kalkulator ini menerapkan tarif 20% tersebut sebagai simulasi saat opsi pajak diaktifkan; Anda juga dapat membandingkannya dengan skenario 'Tanpa potongan pajak' untuk melihat selisih hasil bersihnya.
Mengapa Suku Bunga di Indonesia Terlihat Lebih Tinggi Dibanding Negara Barat
Jika Anda membandingkan suku bunga tabungan Indonesia dengan negara seperti Jepang atau negara-negara Eropa yang suku bunganya mendekati nol, angka di Indonesia memang tampak jauh lebih tinggi. Ini bukan berarti bank di Indonesia lebih 'murah hati' — ini mencerminkan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate, sebelumnya disebut BI 7-Day Reverse Repo Rate) yang berada di kisaran 5,75% per Juli 2026, jauh di atas suku bunga acuan negara-negara dengan inflasi rendah.
Suku bunga acuan yang lebih tinggi ini juga berjalan beriringan dengan tingkat inflasi Indonesia yang secara historis lebih tinggi dibanding negara maju — kalkulator ini menggunakan asumsi default 3,5% per tahun. Artinya, sebagian dari suku bunga nominal yang tampak besar itu sebenarnya hanya mengimbangi inflasi, bukan murni menambah daya beli Anda. Aktifkan opsi penyesuaian inflasi pada kalkulator ini untuk melihat perkiraan nilai riil uang Anda di masa depan, bukan hanya angka nominalnya.
Tabungan vs Deposito Berjangka di Indonesia
Tabungan biasa menawarkan akses dana kapan saja, dengan bunga acuan yang relatif rendah, sekitar 2–4% per tahun tergantung bank dan saldo. Deposito berjangka mengunci dana Anda untuk jangka waktu tertentu (umumnya 1, 3, 6, atau 12 bulan) dengan imbalan bunga yang lebih tinggi, sekitar 4–6% per tahun untuk tenor 1 tahun — namun pencairan sebelum jatuh tempo biasanya dikenakan penalti. Kedua produk ini sama-sama termasuk objek PPh Pasal 4 ayat 2 yang dijelaskan di atas, sehingga perbandingan hasil bersih setelah pajak antara keduanya tetap relevan sebelum Anda memutuskan.
Contoh: Rp50.000.000 + Setoran Rp1.000.000/Bulan Selama 10 Tahun pada Bunga 4,5%
Dengan setoran awal Rp50.000.000, setoran rutin Rp1.000.000 per bulan, suku bunga nominal 4,5% per tahun yang dibukukan bulanan, selama 10 tahun, kalkulator ini menghasilkan nilai masa depan sebesar Rp229.547.712. Dari jumlah tersebut, Rp170.000.000 berasal dari total setoran Anda sendiri (setoran awal Rp50.000.000 ditambah Rp120.000.000 setoran selama 10 tahun) dan Rp59.547.712 adalah bunga yang diperoleh. Karena pembukuan bulanan, suku bunga efektif tahunannya sedikit lebih tinggi dari angka nominal, yaitu 4,59%. Pada tingkat bunga ini, setoran tunggal tanpa tambahan setoran rutin membutuhkan waktu sekitar 15,4 tahun untuk berlipat ganda. Perlu diingat, angka ini adalah nilai sebelum potongan PPh final 20% — aktifkan opsi pajak pada kalkulator untuk melihat perkiraan nilai bersih setelah pajak.
Contoh: Rp50.000.000 Tanpa Setoran Bulanan (Hanya Modal Awal)
Jika Rp50.000.000 yang sama disimpan pada bunga 4,5% dengan pembukuan bulanan selama 10 tahun, tetapi tanpa setoran rutin tambahan, nilai masa depannya hanya mencapai Rp78.349.639 — dengan Rp28.349.639 di antaranya adalah bunga. Dibandingkan dengan Rp229.547.712 pada contoh sebelumnya, selisih ini menunjukkan betapa besar kontribusi setoran rutin bulanan terhadap hasil akhir, jauh melebihi kontribusi dari bunga majemuk atas modal awal saja.
Angka dalam Rupiah yang tampak besar (puluhan hingga ratusan juta) adalah hal yang wajar mengingat denominasi mata uang Indonesia, bukan indikasi kesalahan hitung. Suku bunga tabungan dan deposito di Indonesia juga secara historis lebih tinggi dibanding negara-negara dengan inflasi rendah karena mengikuti suku bunga acuan Bank Indonesia yang jauh lebih tinggi — nuansa yang sering tidak dijelaskan oleh kalkulator generik buatan luar negeri.


