Kalkulator Kubikasi Kayu
Hitung kubikasi kayu dari daftar potongan lengkap — ukuran standar (reng, kaso, balok, papan), jumlah batang per kubik, susut, dan total harga dalam rupiah. Gratis, tanpa iklan, termasuk kubikasi kayu bulat.
| Ukuran kayu | Tebal (mm) | Lebar (mm) | Panjang (m) | Batang | m³ (m³ (kubik)) | Harga (opsional) | |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| – |
- Kubikasi kayu
- Perhitungan volume kayu dalam meter kubik: tebal × lebar × panjang × jumlah batang. Contoh: balok 6/12 panjang 4 m = 0,06 × 0,12 × 4 = 0,0288 m³ per batang.
- 1 kubik berapa batang?
- Tergantung ukuran. Balok 6/12 × 4 m ≈ 34,7 batang per kubik (1 ÷ 0,0288). Pembeli Indonesia biasa berpikir dalam "batang per kubik" — kalkulator ini menampilkannya otomatis untuk setiap ukuran.
- Kayu bulat / log
- Kayu gelondongan yang belum digergaji. Kubikasinya dihitung dengan rumus Huber: 0,7854 × D² × P ÷ 10.000 (D dalam cm, P dalam m).
Kalkulator Kubikasi Kayu: Hitung m³ dan Batang per Kubik
Kubikasi kayu adalah cara menghitung volume kayu dalam satuan meter kubik (m³), dengan rumus dasar tebal × lebar × panjang × jumlah batang. Semua ukuran diukur dalam meter, lalu hasilnya dijumlahkan untuk seluruh daftar potongan yang dibeli. Di toko bangunan atau depo kayu, kayu tidak dijual per "batang harga sekian" secara sembarangan — harga jual sebenarnya mengacu ke harga per m³, dan ukuran dagang yang dipakai adalah ukuran dalam sentimeter seperti reng 2/3, kaso/usuk 5/7, balok 6/12, papan 2/20, dan galar 5/10, hampir selalu dengan panjang standar 4 meter (kadang 3 meter).
Pertanyaan yang paling sering dicari pembeli kayu di Indonesia adalah "1 kubik berapa batang?" — dan jawabannya berbeda-beda untuk setiap ukuran, karena volume per batang tergantung tebal dan lebarnya. Balok 6/12 misalnya membutuhkan sekitar 34–35 batang untuk mencapai 1 m³, sedangkan reng 2/3 yang jauh lebih kecil membutuhkan lebih dari 400 batang untuk volume yang sama. Kalkulator ini menghitung semuanya secara otomatis: masukkan daftar potongan (ukuran, panjang, jumlah batang), dan hasilnya langsung berupa total kubikasi dalam m³, jumlah batang per kubik untuk tiap ukuran, perkiraan susut/sisa potongan, serta total biaya dalam rupiah jika harga per m³ diisi.
Selain mode kayu gergajian (sawn timber), kalkulator ini juga punya mode kayu bulat/gelondongan yang menggunakan rumus Huber — rumus kubikasi log standar yang dipakai di industri kayu dan kehutanan Indonesia — untuk menghitung volume kayu log dari diameter tengah dan panjangnya, tanpa perlu digergaji dulu.
Cara Menghitung Kubikasi Kayu (Langkah demi Langkah)
Menghitung kubikasi kayu gergajian sebenarnya cukup sederhana asal semua ukuran diubah ke satuan meter sebelum dikalikan. Berikut langkah lengkapnya beserta contoh perhitungan nyata memakai ukuran balok 6/12 yang menjadi preset paling umum di toko kayu.
- Ubah ukuran dagang (dalam cm) menjadi meter. Balok 6/12 artinya tebal 6 cm dan lebar 12 cm, yaitu 0,06 m × 0,12 m.
- Kalikan tebal × lebar × panjang untuk mendapatkan volume satu batang. Untuk balok 6/12 panjang 4 m: 0,06 × 0,12 × 4 = 0,0288 m³ per batang.
- Kalikan volume per batang dengan jumlah batang yang dibeli untuk mendapatkan kubikasi total. Misalnya 50 batang balok 6/12: 0,0288 × 50 = 1,44 m³.
- Untuk mengetahui berapa batang yang setara dengan 1 m³ (pertanyaan "1 kubik berapa batang"), bagi 1 dengan volume per batang: 1 ÷ 0,0288 ≈ 34,7 batang. Artinya sekitar 35 batang balok 6/12 panjang 4 m setara dengan 1 kubik.
- Tambahkan perkiraan susut/sisa potongan (biasanya 5–10% untuk kayu konstruksi, tergantung tukang dan pola pemotongan) supaya kebutuhan material tidak kurang di lapangan.
- Jika sudah tahu harga per m³, kalikan dengan total kubikasi (termasuk susut) untuk mendapatkan perkiraan total biaya dalam rupiah. Kalkulator di halaman ini melakukan seluruh langkah tersebut secara otomatis begitu Anda memasukkan ukuran dan jumlah batang.
Contoh Perhitungan: Balok 6/12 (Satu Ukuran)
Ini contoh paling dasar dan paling sering dicari: berapa kubik dan berapa harga untuk sejumlah batang balok 6/12.
Ukuran: balok 6/12 (6 cm × 12 cm), panjang 4 meter — preset default kalkulator ini karena paling umum dipakai untuk kuda-kuda dan rangka bangunan.
Volume per batang = 0,06 m × 0,12 m × 4 m = 0,0288 m³.
Jika membeli 50 batang: total kubikasi = 50 × 0,0288 = 1,44 m³.
1 m³ setara dengan 1 ÷ 0,0288 ≈ 34,7 batang — jadi kalau tukang bilang "butuh 1 kubik balok 6/12", itu kira-kira 35 batang panjang 4 meter.
Dengan harga acuan kayu konstruksi kualitas menengah sekitar Rp4.500.000 per m³, maka 50 batang balok 6/12 (1,44 m³) berharga sekitar 1,44 × 4.500.000 = Rp6.480.000 sebelum ongkos kirim dan tanpa memperhitungkan susut potongan.
Contoh Perhitungan: Daftar Potongan Campuran (Kaso + Papan)
Proyek nyata biasanya butuh lebih dari satu ukuran kayu sekaligus. Berikut contoh menghitung kubikasi dan biaya untuk daftar belanja campuran yang umum dipakai membangun kuda-kuda dan lantai kerja/bekisting.
Item 1 — Kaso/usuk 5/7 (5 cm × 7 cm), panjang 4 m, sebanyak 20 batang untuk rangka kuda-kuda: volume per batang = 0,05 × 0,07 × 4 = 0,014 m³. Total = 20 × 0,014 = 0,28 m³.
Item 2 — Papan 2/20 (2 cm × 20 cm), panjang 4 m, sebanyak 15 batang untuk bekisting/cetakan cor: volume per batang = 0,02 × 0,20 × 4 = 0,016 m³. Total = 15 × 0,016 = 0,24 m³.
Total kubikasi keseluruhan = 0,28 + 0,24 = 0,52 m³.
Dengan harga Rp4.500.000/m³ untuk kaso dan, misalnya, harga papan sedikit lebih murah di Rp4.000.000/m³ karena mutu berbeda: biaya kaso = 0,28 × 4.500.000 = Rp1.260.000, biaya papan = 0,24 × 4.000.000 = Rp960.000, sehingga total belanja kayu ≈ Rp2.220.000 sebelum susut. Kalkulator ini bisa mengisi harga berbeda untuk tiap baris dalam satu daftar potongan, sehingga total biaya proyek langsung terlihat tanpa dihitung manual satu per satu.
Contoh Perhitungan: Kubikasi Kayu Bulat/Gelondongan (Rumus Huber)
Kayu bulat (gelondongan) yang belum digergaji dihitung dengan rumus Huber, rumus standar kubikasi log: Volume (m³) = 0,7854 × D² × P ÷ 10.000, dengan D = diameter tengah log tanpa kulit dalam cm, dan P = panjang log dalam meter.
Contoh: log dengan diameter tengah 30 cm dan panjang 4 m. Volume = 0,7854 × 30² × 4 ÷ 10.000 = 0,7854 × 900 × 4 ÷ 10.000 = 2.827,44 ÷ 10.000 ≈ 0,2827 m³ per log.
Contoh kedua: log lebih besar dengan diameter tengah 40 cm, panjang 4 m. Volume = 0,7854 × 40² × 4 ÷ 10.000 = 0,7854 × 1.600 × 4 ÷ 10.000 ≈ 0,5027 m³ per log — hampir dua kali lipat volume log berdiameter 30 cm meski selisih diameternya hanya 10 cm, karena diameter dikuadratkan dalam rumus.
Rumus Huber ini yang dipakai mode "Kayu bulat / log" di kalkulator — cukup masukkan diameter tengah, panjang, dan jumlah log, hasilnya langsung dalam m³ tanpa perlu menggergaji dulu untuk tahu volumenya.
Tabel Isi per Kubik: Berapa Batang untuk Setiap Ukuran Kayu
Ini tabel yang paling banyak dicari pembeli kayu: berapa batang yang setara dengan 1 m³ (1 kubik) untuk tiap ukuran standar, dihitung untuk panjang 4 meter (ukuran paling umum di pasaran). Semua angka dihitung langsung dari rumus tebal × lebar × panjang, jadi bisa dipakai sebagai acuan cepat di lapangan maupun untuk mengecek tagihan dari toko kayu.
- Reng 2/3 (2 × 3 cm) — volume 0,0024 m³/batang → sekitar 417 batang per m³ (panjang 4 m); sekitar 556 batang/m³ untuk panjang 3 m.
- Reng 3/4 (3 × 4 cm) — volume 0,0048 m³/batang → sekitar 208 batang per m³ (panjang 4 m); sekitar 278 batang/m³ untuk panjang 3 m.
- Kaso / usuk 5/7 (5 × 7 cm) — volume 0,014 m³/batang → sekitar 71,4 batang per m³ (panjang 4 m); sekitar 95,2 batang/m³ untuk panjang 3 m.
- Galar 5/10 (5 × 10 cm) — volume 0,02 m³/batang → sekitar 50 batang per m³ (panjang 4 m); sekitar 66,7 batang/m³ untuk panjang 3 m.
- Balok 6/12 (6 × 12 cm) — volume 0,0288 m³/batang → sekitar 34,7 batang per m³ (panjang 4 m); sekitar 46,3 batang/m³ untuk panjang 3 m.
- Papan 3/30 (3 × 30 cm) — volume 0,036 m³/batang → sekitar 27,8 batang per m³ (panjang 4 m); sekitar 37 batang/m³ untuk panjang 3 m.
- Balok 8/12 (8 × 12 cm) — volume 0,0384 m³/batang → sekitar 26 batang per m³ (panjang 4 m); sekitar 34,7 batang/m³ untuk panjang 3 m.
- Papan 2/20 (2 × 20 cm) — volume 0,016 m³/batang → sekitar 62,5 batang per m³ (panjang 4 m); sekitar 83,3 batang/m³ untuk panjang 3 m.
- Angka-angka di atas berlaku untuk ukuran nominal/dagang persis seperti tertulis. Kayu hasil serutan (dressed/planed) biasanya sedikit lebih kecil dari ukuran dagangnya, sehingga volume aktual dan jumlah batang per kubik bisa sedikit berbeda — gunakan opsi "pakai ukuran sebenarnya" di kalkulator untuk memasukkan ukuran hasil ukur langsung jika diperlukan.
Cara Kayu Dihargai di Indonesia (Rp/m³ dan Rp/Batang)
Secara resmi, harga kayu di Indonesia — baik di depo kayu besar maupun toko bangunan eceran — mengacu pada harga per meter kubik (Rp/m³), karena inilah satuan yang dipakai dari tingkat penggergajian (sawmill) hingga distributor. Namun di level eceran, banyak toko menyederhanakan penawaran menjadi harga per batang untuk ukuran dan panjang tertentu, supaya pembeli awam tidak perlu menghitung kubikasi sendiri. Kedua cara ini sebenarnya sama — harga per batang hanyalah harga per m³ dikalikan volume satu batang — sehingga membandingkan dua penawaran dengan satuan berbeda tetap harus dikonversi dulu ke Rp/m³ agar adil (fitur "penawaran mana yang lebih murah" di kalkulator ini membantu perbandingan tersebut secara langsung).
Sebagai acuan kasar tahun 2026 untuk kayu konstruksi kualitas menengah (kelas kuat/awet sedang, biasa dipakai untuk kuda-kuda dan rangka atap), harga di kisaran Rp4.000.000–Rp5.000.000 per m³ adalah wajar — kalkulator ini memakai Rp4.500.000/m³ sebagai harga acuan default, dan bisa diganti sesuai penawaran toko Anda.
Kayu kelas menengah untuk konstruksi seperti meranti, kruing, atau campuran (kayu "lokal"/"borneo") umumnya berada di rentang tersebut, tergantung daerah dan ketersediaan stok. Kayu kelas premium seperti jati bisa jauh lebih mahal — jati grade A untuk furnitur atau kusen bisa mencapai Rp15.000.000 hingga lebih dari Rp25.000.000 per m³, sedangkan jati grade lebih rendah (jati perhutani KW2/KW3 atau jati kebun/jati putih) bisa berada di kisaran Rp7.000.000–Rp12.000.000 per m³. Harga aktual sangat tergantung wilayah (Jawa vs luar Jawa), musim, dan hubungan dengan pemasok, sehingga angka-angka ini sebaiknya dipakai sebagai perkiraan kasar, bukan patokan mutlak — selalu cek harga langsung ke toko atau depo kayu terdekat sebelum membeli dalam jumlah besar.
Untuk kayu bulat/gelondongan, harga biasanya dihitung per m³ hasil rumus Huber, dan seringkali lebih murah per m³ dibanding kayu yang sudah digergaji karena belum ada biaya pemotongan dan lebih banyak bagian yang belum termanfaatkan (sisa serbuk gergaji, kulit, dan bagian tepi yang terbuang saat penggergajian).
Jenis Kayu dan Tips Membeli di Toko Bangunan / Depo Kayu
Indonesia punya keragaman jenis kayu yang sangat luas, tapi untuk kebutuhan konstruksi dan rumah tangga sehari-hari, pembeli biasanya memilih di antara beberapa kelompok utama. Jati adalah kayu premium paling dikenal — awet, kuat, dan bermotif indah, biasa dipakai untuk furnitur, kusen, dan pintu; harganya jauh lebih mahal dibanding kayu konstruksi biasa. Untuk rangka bangunan dan kuda-kuda, kayu yang lebih umum dipakai adalah meranti, kruing, dan berbagai kayu campuran/lokal (sering disebut "kayu borneo" atau "kayu kalimantan" tergantung asal), yang menawarkan kekuatan cukup dengan harga jauh lebih terjangkau daripada jati.
Beberapa tips praktis saat membeli kayu di toko bangunan atau depo kayu: pertama, selalu tanyakan apakah harga yang ditawarkan sudah per m³ atau per batang, dan untuk ukuran/panjang berapa — ini penting karena toko yang berbeda kadang memakai acuan panjang berbeda (3 m vs 4 m) sehingga harga per batang tidak bisa dibandingkan langsung. Kedua, periksa apakah kayu sudah kering (kadar air rendah) — kayu basah/baru gergaji lebih berat dan bisa menyusut atau melengkung setelah dipasang, yang berarti ukuran akhirnya bisa berbeda dari ukuran saat dibeli. Ketiga, selalu tambahkan susut/sisa potongan (waste) 5–10% di atas kebutuhan teoretis, karena pemotongan di lapangan hampir selalu menyisakan potongan yang tidak terpakai penuh. Keempat, untuk proyek besar, minta harga per m³ langsung dari depo/sawmill karena biasanya jauh lebih murah daripada membeli eceran per batang dari toko kecil.
Dari sisi standar mutu, industri kehutanan dan konstruksi Indonesia mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk kayu gergajian dan kayu konstruksi, yang mengatur antara lain toleransi ukuran, kadar air, dan kelas mutu/kekuatan kayu. Meski di tingkat toko eceran acuan ini jarang disebut secara eksplisit, penyebutan "kayu SNI" atau "kayu bersertifikat" oleh pemasok besar biasanya menunjukkan kayu tersebut sudah melalui proses pengeringan dan sortasi mutu yang lebih terstandar dibanding kayu pasar biasa.
Kalkulator estimasi biaya proyek
